Menyusun skripsi, adalah perang melawan diri sendiri. Melawan kemalasan. Melawan kesombongan karena merasa sudah cukup memahami konsep. Melawan depresi yang mungkin timbul di saat tertentu. Aku bersyukur Tuhan mengirim malaikat-malaikatnya untuk membantu aku memenangkan perang ini.  

Ada malaikat yang hadir dalam wujud teman-teman yang selalu memberi kata-kata penguatan atau data-data yang mungkin bisa membantu. Misalnya Lili, Emil, Daisy, Dim2, Mok, dan masih banyak lagi. Atau dosen-dosen yang mau memberi arahan seperti Ms.Yola dan Pak Ido, juga dosen-dosen lain yang rela aku tanyai ini dan itu. Tapi nggak selamanya malaikat itu berbaju putih. Mereka punya gaya kerjanya sendiri. Seperti Edwin dan Supry.


 Selasa lalu, Edwin atau yang biasa kupanggil Pohong (bhs.Jawa, artinya singkong – kenapa dia dipanggil gitu terlalu panjang untuk diceritakan di sini) datang ke kampus bersama Anton. Mereka berdua adalah lulusan PPKAI UK Petra September 2006 lalu. Pohong ini sebenarnya nggak jelas teman atau musuhku. Karena kita banyakan bertikai daripada rukunnya. Itu terjadi sejak pertama kita saling kenal.  

Di tengah hujan deras siang itu; Pohong, Anton, aku, dan Lista nongkrong bareng sambil makan di kantin. Pohong sempat menanyakan IPK-ku. Ternyata sama dengan IPK-nya saat dia lulus. Lantas aku bilang bahwa aku mengambil satu mata kuliah sambil menyusun skripsi, untuk mendongkrak IPK.  Dasar nggak jelas teman atau musuh, dia mencela. Menurut dia,”Jangan keburu yakin skripsimu bakal A. Dulu aku juga mikir TA-ku pasti A, IPK-ku bakal naik. Ternyata kecentok di B+.” 

Aku teringat betapa hebohnya Pohong saat TA. Dia begadang setiap malam menyelesaikan maket dan buku TA-nya. Entah bagaimana, nilai TA-nya mentok di B+. Padahal Pohong ini mahasiswa PPKAI terpandai di angkatannya. Belum lagi maketnya menuai pujian banyak pihak. Apalagi aku, yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi terpandai di angkatanku. Berapa besar peluangku untuk mendapat nilai A di skripsi?  Belum cukup menyiksa, dia malah bersaksi betapa deg-degannya saat diwisuda. “Ada yang sampai salah langkah, lupa salaman sama rektor lah, lupa foto bareng, megang ijazah di tangan yang salah. Hati-hati, kamu nanti bisa-bisa jatuh ndlosor waktu naik ke panggung.”  

Dengan otakku yang imajinatif, segera saja muncul proyeksi: aku berjalan ke panggung dengan deg-degan. Memakai kebaya dan kain panjang yang menyusahkan. Akhirnya kesrimpet dan jatuhlah aku menelungkup di lantai, dilihat oleh ribuan orang di auditorium. Cepat-cepat aku menghapus bayangan itu. Sambil memikirkan kemungkinan nego dengan orang tua agar boleh memakai celana saja, kalau bisa jeans sekalian, supaya aman dan nyaman. 

“Tapi sudahlah, kamu mikir skripsimu aja dulu, nggak usah mikir wisuda, belum tentu lulus semester ini,” tutupnya dengan gaya yang menyebalkan. Setelah agak terbayang-bayang dengan ucapan Pohong, hari ini aku bertemu dengan Supry. Dengan berbunga-bunga dia menceritakan kebaikan pembimbing skripsinya. Masa depan skripsi Supry sangat cerah, dengan pembimbing yang begitu baik. 

Sementara aku, belum mendapat pembimbing resmi sebelum sidang kolokium April nanti. Memang sih, aku bisa tanya-tanya ke beberapa dosen, tapi mereka kan nggak punya kewajiban legal untuk membimbingku, jadi kadang nggak enak juga mengganggu mereka. Untung sih Ms.Yola dan Pak Ido yang mengajar kelas kolokiumku sangat membantu. Tapi belum tentu mereka bakal jadi pembimbingku nanti. Supry benar-benar pengen membuatku iri. Satu persatu dia menceritakan fakta-fakta yang mematahkan hatiku. Dia juga menertawakan proposal skripsiku yang direvisi Ms.Yola, terutama karena gaya bahasaku yang terlalu ‘koran’. Supry mengakui bahwa gaya bahasaku buruk. Huhuhuhu… 

Tapi… karena aku selalu berusaha menjadi orang yang berpikir positif, aku menganggap celaan dan hinaan teman-temanku ini sebagai cambuk untuk lebih giat lagi menggarap skripsi. Kata-kata Pohong membuatku pengen menunjukkan bahwa aku bisa dapat nilai A, lulus tepat waktu dan wisuda dengan lancar tanpa insiden memalukan. Kata-kata Supry membuatku pengen berusaha lebih keras walau belum dapat dosen pembimbing resmi.  Walaupun kedengarannya sadis, aku tahu mereka nggak punya maksud jelek. Justru, dengan cara itu, mereka ingin menunjukkan dukungannya padaku. Lagipula, dengan cara mereka yang khas, mereka selalu bisa membuatku tertawa terbahak-bahak dan sejenak melupakan beban skripsiku.  

Supry dan Pohong tahu benar karakterku, yang kadang butuh sedikit hinaan dan celaan sebagai motivasi. Aku orang yang lumayan ‘bandel’. Pujian memang bisa memotivasiku, tapi kalau kebanyakan aku akan terbang ke awang-awang dan lupa menghadapi kenyataan. Jadi, thanks to God yang mengirim 2 malaikat hitam untuk menegurku. Karena berkat ‘dorongan’ mereka, aku jadi semangat lagi menggarap skripsiku, setelah sempat stuck seminggu penuh. Buat Supry dan Pohong, thanks ya friends…. =P