Putih bersih, lembut, dan halus. Bukan es krim vanila. Bukan juga krim Hazeline. Apalagi kulit Tamara Blezynski. Es krim vanila nggak berbulu. Krim Hazeline nggak bisa berlari ke sana ke mari. Tamara Blezynski, nggak akan sudi makan Pedigree. Si putih cantik itu adalah Mio, salah satu anjing peliharaan keluargaku.

Mio waktu masih jelekMio seekor anjing jenis Malvish. Ditemukan Papa beberapa tahun lalu di pasar hewan dalam keadaan mengenaskan. Kurus, badannya dipenuhi luka-luka yang berdarah dan bernanah, sekarat hampir mati. Dasar Papa pecinta binatang, dia yakin kalau Mio bisa bermetamorfosis menjadi anjing yang cantik.

Dimulailah proses rehabilitasi di rumah sakit hewan. Tiap hari Papa datang menjenguk Mio yang tak berdaya. Hingga akhirnya Mio dibawa ke rumah. Mengundang murka Mama serta tatapan jijik dari adikku dan setiap tamu yang berkunjung ke rumah.

Hari-hari pertama Mio di rumah tidaklah mulus. Luka-lukanya kembali berdarah. Adikku dengan setengah kasihan, setengah jijik harus membalut tubuhnya. Pelan-pelan, Mio mulai pulih. Tapi apakah menjadi cantik? Tidak. Setidaknya sampai waktu aku pulang kampung.

Barang siapa melihat anjing ini, tolong kontak ke blog saya. Ini anjing curian, tidak halal, kembalikan ke yang punya dong!Semua orang heran melihat Papa mau-maunya memelihara anjing seburuk Mio. Termasuk aku. Dibandingkan Shinchan, anjing Shitzu hadiah ulang tahun dari Papa untuk Dian – adikku, Mio jelas kalah telak. Badannya kurus. Bulunya jarang-jarang.

Tapi Papa tetap telaten merawatnya. Masak air panas untuk air mandi Mio seminggu sekali. Bahkan kadang baru sehari dua hari Papa sudah memandikan Mio lagi walau hanya kaki dan mukanya saja. Perlakuan ini juga berlaku buat Shinchan dan Molly. Oh iya, Molly bukan nama anjing kecil yang imut. Dia seekor anjing blasteran Rotweiller-Herder yang sukses membuat semua orang tak berani masuk rumah.

Ngerti kan kenapa orang2 pada takut masuk sembarangan ke rumahku?Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Suatu pagi, saat Molly masih tidur di kandangnya, Shinchan yang diletakkan di teras lenyap entah kemana. Adikku menangis berhari-hari (bahkan hingga sekarang kalau teringat kejadian itu dia masih menangis). Dian teringat kisah sedih saat anjingnya dulu, Ribut, mati diracuni orang. Mio akhirnya merebut perhatian orang serumah karena perlahan, dia mulai menampakkan kecantikannya.

Mio waktu sudah cantik…Mio adalah anjing pertama yang aku elus dan gendong. Dulunya, lihat anjing saja aku bakal lari sejauh-jauhnya. Berkat ketelatenan Papa, akhirnya aku berani menyentuh Mio. Bahkan lama kelamaan aku jadi sayang padanya.

Waktu aku pulang kampung Natal lalu, Mio sedang hamil. Bapak anak-anaknya adalah LG (baca : Elji, Mamaku memang sering menamai anjing dengan merk barang), anjing teranyar Papa. Aku berharap semoga Mio melahirkan sebelum aku kembali ke Surabaya, supaya aku bisa melihat rupa anak-anaknya.

Tepat sehari sebelum aku berangkat ke Surabaya, Mio melahirkan. Di bawah kolong buffet di ruang depan rumah. Ditemukan pagi-pagi sekali oleh Dian sebelum kami sekeluarga berangkat ke gereja. Mulanya, dia melahirkan 2 anak. Sayang, salah satunya mati.

Pulang dari gereja, aku, Dian, dan Indra sepupuku pergi ke Waterbom. Papa dan Mama yang kembali ke rumah menemukan Mio melahirkan seekor anak lagi. Jadi, ada 3 anak, 2 yang hidup. Yang satu belang hitam putih dan yang lain coklat tua.

Lucu banget melihat Mio dengan cepatnya bisa berlari lincah setelah melahirkan (Kata Mama: ada ya orang habis melahirkan kayak Mio, lari-lari terus! Ya iya lah Ma, habis melahirkan manusia jalan aja sulit, apalagi lari. Mio kan anjing…). Lucu juga melihat gayanya begitu anak-anaknya menangis; meloncat ke dalam kardus tempat anaknya dan menyodorkan puting susunya. Oh iya, sudah banyak orang yang inden minta anaknya Mio loh. Mama akan segera memberikannya setelah mereka berumur sebulan atau lebih.

Kabar terbaru dari Denpasar : akhirnya Mama dan Dian malah kepincut sama anak-anaknya Mio. Alhasil, mereka sekarang berjuang meyakinkan para penginden agar batal mengambil ‘pesanannya’. Tapi yang ada, berbagai sogokan datang, seolah hantaran untuk melamar calon pengantin. Terutama dari salah seorang teman nenekku yang memang sudah sering menelepon sejak Mio hamil. Mama dan Dian jadi pusing; mereka berencana membeli anak anjing di pasar sebagai pengganti anak Mio.

Sementara salah satu anaknya Mio akan dihadiahkan kepada Indra. Aku jadi khawatir mengingat Indra sudah punya 2 ekor anjing Kintamani di rumahnya, Gembrong dan Bono. Mereka nakal sekali, apalagi badannya jauh lebih besar. Bisa-bisa anaknya Mio ditelan bulat-bulat, seperti anak ayam peliharaan Indra dulu.

Ternyata gadis 8 tahun itu sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk. Anjing kecil yang memang sudah diimpi-impikannya itu akan dipelihara di kantor orang tua Indra. Di sana ada orang yang bisa mengurus dan tidak ada anjing besar.

Anyway, bagaimana nasib Mio saat anak-anaknya diperebutkan? Si anjing super centil itu sekarang sudah kembali mejeng seperti biasa. Orang bilang, kejahatan terjadi kalau ada kesempatan. Hukum itu berlaku pada Mio: entah berapa kali tetangga kami yang baik hati mengantar Mio pulang ke rumah saat dia berhasil kabur ke jalanan.

Ngomong-ngomong, inilah realita keluargaku, para pecinta binatang. Sebenarnya sih Papa yang duluan mulai. Bayangin aja, dari angsa, monyet, ayam, burung, ikan, sampai kancil dan kuda poni pernah Papa pelihara. Dulu Mama nggak setuju pelihara anjing di rumah, entah gimana akhirnya sekarang malah Mama dan Papa sering bertengkar karena Mama membela anjingnya. Pernah juga Dian mogok bicara 3 hari sama Papa gara-gara Papa memaksa Molly kawin sebelum masanya. Aku sih termasuk paling cuek dalam keluarga. Ada anjing ya disayang, nggak ada ya sudah.

Indra lebih parah lagi. Dari anak ayam, anjing, burung, ikan, sampai kambing dia punya. Diberi nama satu persatu (burung bernama Zorro, nama kambingnya Bruno& Mrs.Black, yang lain entah siapa lagi). Saking cintanya sama binatang, lagu pertama yang Indra ciptakan adalah tentang ikan bernama Nani. Sering dia marah besar gara-gara mamanya berencana mengurbankan kambing atau menggoreng ayamnya. Obsesi Indra adalah punya sapi. Obsesi yang ditolak orang tuanya karena luas rumah tidak mencukupi, lagian mau dibawa merumput ke mana sapinya? Nggak kebayang deh kalau Indra besar nanti. Bisa-bisa kerja sama dengan Papa, bikin kebun binatang kali ya…..