Dulu, aku menyambut masa berakhirnya jabatanku di Lembaga Kemahasiswaan UK Petra dengan bahagia. Terbayanglah malam-malam yang akan diisi dengan mimpi, bukan dengan kongres, rapat, atau tugas yang menumpuk. Juga hari-hari indah di mana aku bakal punya banyak waktu untuk diriku sendiri : baca novel favorit sepuasnya, nonton film, belanja, dan hang out dengan teman; bukan rapat, memeriksa proposal dan LPJ, baca tata aturan ini dan itu. Apalagi kuliahku boleh dibilang sudah selesai, hanya tinggal magang dan menyusun skripsi. Makanya, aku menolak mentah-mentah tawaran untuk bergabung dengan organisasi kemahasiswaan lagi, sekalipun ada rasa sayang juga mengingat kiprahku selama ini. Tapi ini waktunya memikirkan diriku sendiri, masa depanku, mimpi-mimpiku.

Enam bulan pertamaku setelahnya diisi dengan magang. Walaupun sangat fun, tapi jam kerjaku cukup gila-gilaan dan aku masih harus menyusun laporan magang. Sabar, pikirku. Hari-hari indah akan datang semester depan. Benar saja, kelar magang lengkap dengan sidang-sidangnya aku sempat menganggur satu dua bulan. Sempat pulang kampung lagi, menikmati main sama adik-adikku, main sama anjing-anjingku, main games sepuasnya. Seperti kembali ke masa kecil di mana pikiranku cuma buat main, main, dan mainnn…

Tapi gara-gara keserakahan temanku Daisy yang masih mau jadi ketua panitia Communication Parade, akhirnya aku kena getahnya. Karena pengen bantu teman terjebaklah aku di kepanitiaan ini dengan segala lika-likunya. Dibilang bikin stres, ya lumayan. Pertamanya aku pikir, ya nggak apa-apa, hitung-hitung sebagai pengisi waktu luang dan bentuk kontribusi terakhir buat jurusanku.
Eh, begitu satu pintu kesempatan terbuka, yang lain mau ikutan. Temanku Widi menawariku jadi sekretaris Tim Formatur. Susahnya, orang-orang di dalamnya itu teman-teman akrabku. Jadi ngiler pengen ikutan, sekalian nostalgia sama mereka. Sempat tercetus keinginan untuk mundur, tapi akhirnya pada suatu Sabtu yang indah teman-temanku ini melancarkan rayuan mautnya. Satu kegiatan lagi bertambah di agendaku, hari Sabtu lagi rapatnya.

Karena obsesi ingin menaikkan IPK biar angkanya genap dan cantik, aku jadi ambil satu kelas lagi. Itu masih ditambah kelas kolokium tiap minggu. Kelas di mana para pembuat skripsi mendiskusikan proposalnya.

Sudah gitu, aku diminta jadi pembicara LC Pratama minggu lalu. Karena niat, aku sampai pinjam buku di perpustakaan dan menyusun makalah 8 halaman dalam bahasa Inggris. Mikir bermalam-malam gimana biar kelasnya seru. Makanya aku lumayan ngamuk waktu lihat makalahku digulung-gulung tanpa dibaca peserta. Sensi juga waktu ada peserta yang ngobrol sendiri dan tidak mendengarkan. Dipikirnya aku nganggur banget kali! Temanku Supry menyarankan, lain kali kelas kayak gitu ditinggal saja. Untungnya aku masih ingat sama tujuan awalku untuk berbagi pengetahuan dengan mereka.

Hari Minggu barusan, yang mestinya menjadi hari istirahatku yang indah pun akhirnya kulalui di atrium Tunjungan Plaza 3, menerangkan pada tante-tante dan om-om atau adik-adik yang pengen tahu tentang jurusanku. Itu pun harus bersaing dengan suara stereo dari panggung yang menampilkan lomba atau atraksi seni. Alhasil, tenggorokanku yang sudah ada bakat radang jadi tambah parah.

Entah karena penampilanku meyakinkan atau karena nggak ada pembicara lain, aku diminta bicara di LC lagi minggu ini. Rasanya pengen nolak, tapi para partnerku minta aku ikutan lagi. Sebenarnya ya oke aja, sekalian belajar melatih public speaking. Masalahnya hingga hari ini aku masih blank, padahal kelasnya Jumat. Partnerku tanya gimana, aku balas SMSnya bahwa kolokium dan kepanitiaan sudah membunuhku… dia malah balas, mana ada hal yang bisa membunuhmu… oh My God…

Terus, aku masih diminta jadi moderator COMET Sabtu ini. Waduh, rasanya aku tak sanggup lagi. Selain belum ada pengalaman, aku pengen istirahat dan take time buat skripsiku yang masih kerangka. Aku pengen ngebut supaya bisa ujian semester ini dan wisuda September nanti.

By the way, yang nightmare lagi, aku sudah masukin CV untuk ikut ISBS dan PR Week Call for Paper. Kalau terpilih ISBS, waktuku di penghujung Mei akan habis. Apalagi kalau Call for Paper juga sukses. Aku dan Daisy sekarang saling mendorong satu sama lain untuk menulis papernya. Karena ternyata hanya satu mahasiswa yang terpilih. Buatku, mendingan Daisy aja deh yang berangkat. Dia kan anak PR, public speakingnya lebih oke. Tapi Daisy ngotot biar aku saja yang berangkat, karena menurutnya aku lebih pinter nulis.

So, kesimpulannya, apakah setelah nggak berorganisasi aku nganggur? Ternyata tidak saudara-saudara! Kayaknya aku mesti nunggu ujian skripsi selesai untuk bisa nganggur! Itu pun belum tentu!

Tapi, apa gara-gara jadwalku full aku nggak menikmati hidup? Nggak juga! I enjoy what I’m doing. Untungnya aku cinta sama tema skripsiku, jadi lumayan fun ngerjainnya. Untungnya aku cinta sama jurusanku, jadi biar Parade dihantam badai aku tetap mau berkomitmen melakukan yang terbaik. Untungnya aku cinta sama tim formatur, jadi aku akan usaha juga, asal jangan sampai LPJku ditolak kongres. Untungnya juga aku memang pengen punya prestasi di luar kampus, dan ISBS/Call for Paper bisa jadi kesempatan emas buatku. Tapi, karena seorang Ria tidak akan mungkin melakukan semuanya, aku serahkan ini pada Yang Kuasa aja. Karena segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13). Amin… amin…