Biarlah Anak-Anak Tetap Menjadi Anak-Anak

15 Comments

Belakangan ini aku sedang senang-senangnya menonton serial ‘Doo Bee Doo’ di RCTI. Yang aku sukai dari serial ini adalah tokoh utamanya, seorang balita bernama Shayna. Shayna dikisahkan sebagai anak yang tak jelas asal-usulnya, yang akhirnya dirawat secara sembunyi-sembunyi oleh tiga siswa SMA di rumah kosnya. Secara fisik, Alanis, yang berperan sebagai Shayna, memang merupakan balita yang sangat lucu. Berkulit putih bersih dengan rambut keriting kecil-kecil, mata bulat dan mimik ekspresif.

Tapi kalau membayangkan apa yang terjadi di balik layar, aku agak khawatir dengan perkembangan Alanis. Bayangkan saja, kebanyakan sinetron di Indonesia diproduksi secara stripping alias kejar tayang. Bisa jadi, hampir setiap hari waktu Alanis dihabiskan di tempat syuting. Padahal, balita seumuran Alanis butuh waktu tidur yang cukup banyak. Bisakah dia tidur dengan lelap di tempat syuting yang hiruk pikuk? Lagipula, Alanis mestinya sudah atau paling tidak akan segera masuk preschool. Bayangkan kalau pulang dari preschool masih harus syuting.

Yang mengkhawatirkan lagi, tokoh Shayna digambarkan sebagai anak yang cerdas tetapi agak nakal. Contohnya, Shayna pernah ditampilkan menyetir mobil sendiri, menyetir bus, dan melaju di jalan raya dengan skateboard. Celetukan yang terucap dari mulutnya terkadang terkesan dewasa. Macam, “Kasian deh lu!”, “Capee deh!”, “Emang enak?”, “Sogok aja Kak!”, “Abang pelit!” dan lain sebagainya.
More

Berita: Pak Harto Lagi, Pak Harto Lagi….

12 Comments

Sejak kemarin, malas rasanya nonton siaran televisi nasional. Sejak hari ini, malas rasanya membaca koran nasional. Kenapa? Karena beritanya semua sama: tentang meninggalnya Pak Harto.

Mendadak semua orang seolah lupa dengan tindak korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan pada masa pemerintahannya. Mendadak media berlomba-lomba mengingatkan bahwa berkat Pak Harto-lah Indonesia bisa mencapai swasembada beras pada penghujung 1980-an.

Saya bukan bermaksud sinis, juga bukan bermaksud tidak ikut berbelasungkawa atas meninggalnya beliau.

Cuma mikir, alangkah menariknya kalau pemberitaan tentang Pak Harto semenjak sakit hingga meninggalnya ini dianalisis.

1. Berapa nilai AVE-nya? AVE atau Advertising Value Equivalence adalah nilai yang diperoleh bila kita mengandaikan suatu berita sebagai sebuah iklan. Misalkan berita tentang Pak Harto dimuat di halaman depan koran nasional, dengan foto berukuran besar dan full-colour. Bila sebuah iklan dimuat di koran tersebut dengan format yang sama (halaman depan, ukuran besar, dan full colour), berapa harga yang harus dibayarkan oleh si pengiklan? Demikian pula di media elektronik. Bila laporan khusus tentang Pak Harto selama satu jam diganti dengan penayangan iklan satu jam non-stop, berapa keuntungan yang akan diraih pihak televisi? Ingat pula untuk memperhitungkan prime time di mana harga slot iklan semakin mahal. Padahal kalau kita amati, hari-hari ini semua media memberitakan kematian Pak Harto besar-besaran. Nilai AVE-nya tentu super tinggi, mengingat berita-berita tersebut menghiasi halaman depan koran ataupun prime time televisi. Tingginya nilai AVE mengindikasikan betapa signifikannya nilai berita itu bagi media. Mungkin kalau di luar negeri, berita tentang Pak Harto ini bisa disetarakan dengan pemberitaan mengenai Britney Spears yang juga tak ada habisnya.

2. Meski sekilas, aku tertarik ingin menganalisis tonality pemberitaannya, apakah positif, negatif, atau netral. Tapi, mengingat sifat mikul dhuwur mendhem jero rakyat Indonesia (yang begitu sukses ditanamkan Pak Harto), sepertinya tonality pemberitaan ini lebih banyak bersifat positif. Amien Rais yang dulu getol mengkritik Pak Harto saja justru menyatakan agar Pak Harto dimaafkan.

3. Apakah pemberitaan media tentang Pak Harto cukup tepat? Ini bisa dicek dengan media reality check. Apakah ada incomplete information, misleading, obmission?

Wah, jadi pengen balik ke kelas Analisis Isi nih…. ada yang berminat menganalisis? Yang lagi merancang proposal skripsi mungkin?

Eniwei, turut berbela sungkawa atas meninggalnya Pak Harto. Yang harus disesalkan adalah mengapa hingga meninggalnya Pak Harto belum menjalani proses hukum yang tuntas, sehingga beliau harus dikubur beserta sejuta pertanyaan tak terjawab. Semoga tak mengganggu istirahat panjangnya itu…. Sepertinya Indonesia akan sangat merindukan sosok pemimpin dengan kejeniusan Soeharto, yang diimbangi dengan ketulusan dan kejujuran….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.