Tadi pagi aku datang ke acara debat publik kandidat anggota KPID Jawa Timur periode 2007-2010. Debat publik kandidat anggota ini adalah yang pertama kalinya dalam sejarah KPID. Berlangsung di hotel Inna Simpang, Jl.Pemuda, berbagai kalangan datang menghadiri acara ini. Mulai dari akademisi, praktisi di bidang penyiaran, sampai kami para mahasiswa.

Dekan Fakultasku, Bpk.Ronny Mustamu, berlaku sebagai moderator dalam acara ini. Sementara dari sisi panelis dihadirkan Pak Soetojo, Pak Tjuk Suwarsono, Pak Djoko Tjahyo, Pak Henry Subiakto, Pak Ismoyo. Mereka adalah orang-orang yang kompeten di bidang penyiaran, baik dari segi akademis maupun praktis.

Oke, acara dimulai pk 09.00 dengan perkenalan panelis, moderator, dan pembacaan aturan. Satu sesi akan diikuti oleh 6 orang calon. Setiap calon akan memaparkan visi misi dalam batas waktu sekian menit. Kemudian, para panelis akan memberi pertanyaan yang harus dijawab semua calon. Baru setelah itu diberi waktu untuk pertanyaan yang ditujukan kepada individu. Terakhir, publik yang hadir boleh bertanya. Pertanyaan publik dapat dipertajam lagi oleh panelis.

Dalam sesi pertama yang kuhadiri tadi, enam calon yang maju adalah Agus Sugiharto, S.Sos (dosen, konsultan); Surokim, S.Sos, M.Si (humas Universitas Hang Tuah); Ambar Chinta Rukmi, SH (wartawan, reporter radio); Drs. Budi Sampurno, M.Si (pensiunan PNS); Amir Arif, ST (sarjana arsitektur); dan Ana Mariani, M.Si (ketua jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang).

Visi-misi yang mereka paparkan cukup panjang. Ada calon yang bahkan mempunyai 10 misi dan 11 langkah strategis untuk menjalankannya. Dalam hati aku bertanya, mampukah mereka melakukan semuanya nanti dalam masa jabatan 3 tahun? Apalagi mengingat mereka juga punya pekerjaan yang tidak akan ditinggalkan.

Dalam sesi tanya-jawab, moderator menegaskan agar pertanyaan berbasis pada kompetensi komunikasi penyiaran, kompetensi manajerial, dan integritas. Maka, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tajam. Misalnya Pak Djoko bertanya, apa yang akan mereka lakukan seandainya dalam sebuah voting, mereka kalah, padahal keputusan yang keluar itu akan menciderai publik. Ada calon yang menjawab, akan mundur saja. Ada pula yang mengatakan, akan menjelaskan keadaannya pada publik. Memang pertanyaan yang dilematis. Di satu sisi bila mereka menjalankan keputusan itu, mereka akan menciderai publik yang menaruh kepercayaan pada mereka. Di sisi lain, bila mereka tidak menjalankan, berarti mereka melawan prinsip demokrasi di mana keputusan organisasi menjadi tanggung jawab bersama. Bila mereka menjelaskan kepada publik bahwa mereka juga tidak setuju, dengan kata lain mereka menyerang rekan kerjanya dan bisa jadi, terkesan cuci tangan. Bila mereka mundur, apakah keadaan bisa berubah? Betul-betul kondisi yang sulit.

Yang menarik adalah ada calon yang pernah bekerja di sebuah radio tak berizin siar (Ibu Ambar). Menurutnya, dia sudah mengajukan izin siar namun akhirnya tak jelas karena KPID periode lalu bubar. Maka, dia memilih mundur, walaupun tetap saja dia tercatat sempat siaran tanpa izin.

Sementara Ibu Ana menjawab pertanyaan panelis bahwa dia akan senang bila mahasiswanya membuat radio kampus dan dia akan memastikan izin siarnya. Ternyata, setelah ditanyai lagi, apakah radio kampusnya sudah siaran, jawabannya sudah. Dan ternyata lagi, radio itu belum berizin. Ibu Ana cepat-cepat menjawab dia sudah meminta pembimbing radionya mengurus izin, tapi belum selesai.

Sementara Bapak Budi menjawab dengan yakin bahwa dia akan bisa independen. Alasannya, dia kan pensiunan PNS. Nothing to lose baginya bekerja di KPID. Dan status pensiunannya juga memungkinkan dia lebih banyak meluangkan waktu di KPID. Meski ternyata, menurut pengakuannya, dia menonton televisi ‘baru’ 3-4 jam per hari.

Bapak Agus menegaskan komitmennya untuk menindak radio Kristen yang siaran tanpa izin, terlepas dari fakta bahwa dia sendiri seorang Kristen. Sempat pula ia menyinggung sinetron sebagai tayangan yang paling tidak disukainya, karena tak membawa pesan apa-apa. Menurutku, sinetron Indonesia membawa pesan lho. Hedonisme, Cinderella Complex, adalah contoh pesan yang dibawanya.

Bapak Surokim secara cukup mengejutkan menyatakan dukungannya kepada tayangan lokal Pojok Kampung di JTV. Padahal program tersebut sering diprotes karena dinilai menggunakan bahasa yang tak sopan dan tidak mencerminkan bahasa Suroboyoan yang sebenarnya (ada beberapa kosakata yang mereka ciptakan sendiri). Sebaliknya, dia mencela tayangan mistik di stasiun televisi nasional. Namun, dia memaklumi bila tayangan mistik disiarkan di stasiun televisi lokal.

Bapak Amin bersikeras mempolisikan radio yang ‘bandel’, yaitu radio yang sudah ditegur karena izin siarnya belum diurus, tapi tetap siaran. Sekalipun, Pak Djoko mengatakan bahwa dalam kasus yang dicontohkan, radio bandel itu dimiliki oleh polisi. Oh iya, Pak Amin ini cukup menarik. Pidato pemaparan visi misi beserta CV-nya diedarkan pada para penonton melalui segepok kertas fotokopian. Dari CV-nya aku tahu, meski menyandang gelar sarjana Arsitektur, Pak Amin cukup makan asam garam di dunia komunikasi. Maka, sejak tahun 2000 dia mengambil kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka yang belum rampung hingga sekarang. Wah, jangan-jangan dia juga lagi menyusun skripsi seperti aku.

Ngomong-ngomong, tadi aku sempat berpikir tentang kinerja para calon kelak bila terpilih menjadi anggota KPID Jatim. Mereka punya pekerjaan masing-masing. Mereka juga berkewajiban mengamati isi media dengan cermat untuk memantau adanya pelanggaran atau ketidaksesuaian lainnya. Belum lagi mereka harus rapat komisi, rapat pleno, dan berbagai macam rapat lainnya. Wah, dalam 3 tahun ini mereka akan bekerja super keras. Dan itu dibayar dengan gaji yang tidak besar, kata Pak Djoko.

Uniknya lagi, pada saat publik berkesempatan memberi pertanyaan, beberapa orang justru protes ke moderator. Ada yang protes karena kandidat yang datang sebagai penonton tidak boleh bertanya pada kandidat yang berada di depan. Ada pula yang menanyakan di manakah anggota komisi A DPRD Jatim berada, mengingat merekalah yang nantinya memilih anggota KPID. Ternyata yang hadir hanya seorang, karena jadwal yang kebetulan bentrok.

Yah, begitulah secuplik cerita dari debat publik kandidat anggota KPID tadi pagi. Sayang sekali ceritanya cuma segini. Soalnya jam 12.00 aku sudah pergi meninggalkan lokasi karena ada keperluan lain. Dan besok aku nggak bisa datang karena ada kuliah. Tapi, seru aja sekali-sekali datang ke acara seperti ini. Wish I can be there again…