Fandy si Indonesian IdolFandy Santoso, itulah nama temanku yang satu ini. Dari semester pertama bakat menyanyinya sudah jelas terlihat. Hebatnya, tanpa diasah lewat les vokal pun, suaranya sudah oke. Bakatnya benar-benar alami, sudah dari sononya. Performanya di camp, talent show mahasiswa baru, dan event-event mahasiswa selalu mempesona.

j-first.jpg

 

Sejak dulu kita sudah mendorong Fandy untuk ikut kontes pencarian bakat. Waktu musim AFI, sampai akhirnya Indonesian Idol. Tapi Fandy punya cara sendiri untuk menggunakan talentanya. Dia memilih jalur lagu rohani. Bersama band J-First, Fandy sempat menelorkan sebuah album. Fandy punya pertimbangan sendiri kenapa tidak mencoba jalur populer. Dia tidak ingin meninggalkan kuliah.

Fandy waktu audisi di SurabayaEntah kenapa, akhirnya Fandy mencoba keberuntungan ikut audisi Indonesian Idol 2007. Mungkin karena dia hanya tinggal menyelesaikan skripsi dan berkat dorongan teman-teman juga. Menjelang audisi, dia menjaga suara dengan stop makan gorengan dan air es. Eh, ternyata dia gagal di hari pertama. Karena setengah frustrasi Fandy kalap. Gorengan dan es, semua yang menjadi pantangan penyanyi, dilahapnya. Siapa sangka, dia malah lolos di audisi hari kedua. Apa karena suaranya jadi agak serak-serak basah, saya juga tak tahu pasti.

Fandy coba-coba rekaman suara di kost temannyaFandy dijanjikan akan ditelepon untuk audisi dengan Titi DJ dkk. Begitu tegang menunggu kabar panitia, sampai rasanya dia ingin kabur dari kewajiban mengikuti perwalian, bertemu dengan dosen wali di kampus. HP selalu dipajang di depan mata, siapa tahu ada telepon. Tapi telepon dari panitia tak kunjung datang. Fandy bertanya-tanya, apakah ini gara-gara penampilannya kurang menjual? Sempat pada hari dia lolos audisi, dia diminta perform di depan kamera. Konon, rekamannya akan ditunjukkan dulu kepada juri. Kalau menarik, baru dipanggil.
Ternyata Fandy dikerjai panitia. Malam-malam dia ditelepon, besoknya harus audisi. Dan, sesuai dugaan serta harapan kita semua, Fandy lolos ke Jakarta.

Dua hari lalu, teman-teman sekampus heboh gara-gara foto di halaman hiburan Jawa Pos. Di foto yang katanya foto para peserta audisi Idol dari berbagai kota itu, tidak ada wajah Fandy. Muncul berbagai dugaan. Ada yang bilang, jumlah orang di foto itu pas untuk babak selanjutnya. Berarti Fandy gagal. Apalagi Fandy tidak membalas SMS kami. Apakah itu berarti Fandy sedang down?

Namun ada yang yakin, foto itu cuma menunjukkan sebagian peserta audisi. Jadi masih ada harapan untuk Fandy. Dia hanya tidak terfoto. Ternyata dugaan kedua ini benar. Kabar kemarin malam, Fandy masuk 40 besar. Dan pagi ini, Fandy minta dukungan teman-teman karena dia akan berlaga di 24 besar. Kalau Fandy lolos, dia berkesempatan menjajal Spektakuler Show.

Kami semua, teman-teman Fandy, dari awal sudah berjanji akan mendukung. Rencananya kita akan urunan untuk membuat poster demi mendapat dukungan SMS. Untunglah sejak Fandy mulai audisi, teman-teman sudah mencanangkan program hemat pulsa. Ya, semoga SMS kami cukup untuk mengantar Fandy jadi juara.

Fandy In ActionBuat masyarakat Indonesia, jangan ragu SMS untuk Fandy. Pertama, suaranya memang dashyat. Kalau memang mau mengutamakan kualitas, tanpa ada embel-embel kemanusiaan (maksudnya SMS karena kasihan akan asal usulnya yang dari keluarga tak mampu, seperti sering terjadi sebelumnya), Fandy cukup bersaing. Dari segi tampang, Fandy ada potongan untuk jadi seorang bintang. Mungkin nggak secakep Delon, tapi ya tinggal dipoles, kan semua bintang juga begitu.

Secara karakter Fandy baik, rendah hati, polos, jujur, apa adanya. Orangnya humoris. Teman-teman mengenal Fandy sebagai orang yang selalu tersenyum. Ujian sulit, Fandy tersenyum. Banyak tugas, Fandy tersenyum. Dosen galak, Fandy tetap tersenyum. Bukan karena munafik, tapi Fandy memang tipe orang yang selalu bisa memandang hidup dari segi positif.

Fandy bergaya hormat benderaFandy Bermain GitarFandy cukup humoris. Saya ingat dia pernah lempar joke tentang seorang teman kami, yang populer dipanggil Tompel. Menurut Fandy, ada yang membedakan Tompel dengan Tompi. Emangnya apa Fan? “Kalau tompel,” dia menunjuk salah satu pipinya,”di sini.” Kalau tompi? “Di sini!” Fandy menunjuk kepalanya. Hehehe… jayus sih…. tapi itulah Fandy.

Fandy punya empati yang tinggi juga. Contohnya waktu saya nangis gara-gara bingung ngerjain ujian Audience Research, Fandy sebagai teman sekelompok jadi ikut terharu dan ingin nangis. Jadi kalau nanti sudah tenar, saya yakin Fandy akan tetap jadi Fandy yang ramah, baik hati dan tidak sombong. Cia yo Fandy! Kami di Surabaya akan tetap mendukungmu!

About these ads