Mengubah Mental = Mengubah Hidup

Leave a comment

Pagi ini dalam perjalanan menuju bandara, saya teringat seorang teman saya. Pertama kali mengenalnya, dia bertubuh gendut. Setelah setahun bekerja, dia semakin gemuk. Bahkan Office Boy di kantornya hafal dengan kebiasaannya makan dalam porsi besar.

Awal tahun ini saya bertemu dia, tubuhnya sudah begitu besar. Kami sebagai teman-teman berusaha menegur dia, karena berat badannya yang berlebih sudah mengganggu aktivitas dan kesehatannya. Hasil check up kesehatannya kurang bagus, padahal usianya masih di bawah 30 tahun.

Beberapa bulan terakhir teman-teman mengatakan, dia sudah berusaha hidup sehat. Diet ketat dan rajin berolahraga. Dia rajin bersepeda sepulang kantor, meskipun sudah agak malam. Meskipun diajak makan di mall, dia memilih makanan yang rendah kalori. Bila harus makan agak banyak, dia sudah menjadwalkan olahraga untuk membakar lemak sebelum berat badannya bertambah lagi.

Akhirnya kami bertemu, alangkah kagetnya saya melihat perubahan fisiknya. Konon sudah 20 kg hilang dari tubuhnya. Pakaian lamanya saja sudah kedodoran. Dia kelihatan lebih segar dan lebih gesit, saya yakin hasil check-up-nya sekarang pasti lebih baik.

Tapi, perubahan itu bukan hanya di fisik. Perubahan yang sebenarnya adalah pada sikap mentalnya. Dia mengatakan, berubah memang tidak instan, semuanya tergantung karakter. Dia senang punya teman-teman yang tidak bosan mengingatkan dia.

Ketika teman saya sudah mengubah sikap mentalnya, mencoba mengendalikan diri untuk makan dengan benar dan berolahraga, perubahan fisik sebenarnya hanyalah ‘bonus’. Saya yakin, dengan mengubah sikap mental sebenarnya banyak hal yang juga dapat dia perbaiki dalam hidupnya.

Bayangkan kalau dia tidak mengubah sikap mentalnya. Ketika orang berkata, ‘Ah kamu gendut dari sononya, mana bisa kurus?’, dia mungkin akan down dan kembali ke kebiasaan semula yang tidak sehat. Ketika stress karena pekerjaan, bisa saja dia menjadikan makan berlebihan sebagai pelarian. Kesibukan kerja juga bisa dijadikan alasan pembenar untuk tidak berolahraga.

Tetapi karena sikap mentalnya sudah dibaharui, teman saya berhasil mengatasi semua godaan. Tanpa mungkin dia sadari, dia sudah menjadi motivasi dan inspirasi bagi orang di sekitarnya.

Mengutip Mazmur, umur manusia biasanya 70-80 tahun. Tetapi tidak ada jaminan kita bisa mencapai umur tersebut, bisa saja kita sudah dipanggil Tuhan di usia yang lebih muda. Pilihannya adalah, bagaimana kita memanfaatkan umur yang terbatas dengan baik? Teman saya sudah menjawabnya dengan memilih hidup sehat, dan saya yakin, dengan pilihannya itu, dia akan menikmati hidup yang lebih positif, produktif, dan terberkati. Saya sedang menunggu cerita darinya, tentang hidup lebih baik yang dia dapatkan berkat perubahan mentalnya. Bagaimana dengan Anda?

#indonesiajujur : Is Honesty Still The Best Policy?

1 Comment

Waktu saya kecil, ada buku tulis yang bagian bawahnya dihiasi kata-kata mutiara. Salah satu kata mutiara itu adalah : Honesty is the best policy. Kejujuran adalah kebijakan yang terbaik. Kata-kata itu saya ingat sampai hari ini.

Tapi, membaca kasus contekan massal di SDN. Gadel, saya jadi mempertanyakan : is honesty still the best policy? Buat yang belum tahu ceritanya, alkisah AL, bocah cerdas yang bersekolah di SDN Gadel, diminta wali kelasnya memberikan contekan kepada teman-temannya pada saat Unas. Setelah Unas selesai, AL melaporkan hal ini kepada ibunya, Ny. Siami. Mengetahui kecurangan tersebut, Ny. Siami tidak tinggal diam, melainkan melapor pada Kepala Sekolah. Karena tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, kasus ini dibawa sampai ke Komite Sekolah bahkan ke Diknas. Kasus ini kemudian ter-blow up oleh media.

Singkat cerita, kejujuran dan keberanian Ny. Siami ini malah menjadi malapetaka. Mulai dari demonstrasi anak SDN Gadel di rumahnya, hingga akhirnya warga mengusir Ny. Siami dengan kekerasan. Saat saya membaca berita ini, saya langsung meng-update status baik di Blackberry Messenger maupun Twitter :

IS HONESTY STILL THE BEST POLICY?

More

Guru di Luar Kelas (5)

Leave a comment

Dulu, setiap kali saya pergi untuk mengikuti Misa di hari Minggu, saya selalu melihat mereka. Seperti kamera, pandangan saya beralih dari satu shot ke shot lainnya.
Shot 1 (close up) : genggaman tangan yang tak terlepaskan.
Shot 2 (close up) : rambut putih keperakan di atas kepala.
Shot 3 (close up) : kerut di sekitar mata dan bibir yang tak dapat menyembunyikan usia.
Shot 4 (medium-close up) : kaki yang berjalan lambat dan tertatih-tatih

Di depan saya, Tuhan sedang merangkai sebuah cerita. Tentang sepasang Oma dan Opa. Dia memperlihatkan kepada saya, kisah nyata tentang makna komitmen dan kesetiaan dalam cinta. Potongan-potongan gambar yang saya lihat, menyusun sebuah renungan di hati saya.
More

Guru di Luar Kelas (4)

1 Comment

Salahkah bila seseorang yang dicobai begitu berat dalam hidupnya kemudian menjadi orang yang penuh dengan kepahitan? Menurut saya, tidak salah. Perubahan karakter ke arah yang negatif akibat ketidakmampuan menanggung cobaan hidup adalah hal yang sangat manusiawi. Yang luar biasa adalah, manusia yang menerima begitu banyak cobaan berat dalam hidupnya, dan tetap menjadi sosok yang positif, menginspirasi, bahkan menjadi berkat bagi sesamanya.

Saya beruntung dapat mengenal sosok luar biasa itu. Saya memanggilnya Oma. Meski sudah memasuki usia senja, saya dapat melihat gurat-gurat kecantikan masa muda di wajahnya. Wajah yang selalu dihiasi senyum yang tulus dan lemah lembut. Tak heran bila banyak orang betah berlama-lama di kedainya.

Saya tak pernah menyangka bahwa selama hidupnya, Oma banyak mendapat cobaan yang berat. Ditinggalkan oleh ibu kandungnya di usia dini. Tak lama kemudian, ayah kandungnya meninggal dunia. Setelah menikah dan berkeluarga pun banyak masalah yang menimpanya. Bahkan di usia senja, di mana seharusnya ia tinggal menikmati hidup, masih ada saja beban yang harus ditanggungnya. Detailnya mungkin kurang etis bila saya kisahkan di sini. Yang pasti, hidup Oma boleh dikatakan kurang beruntung. More

Denny Sumargo and Agnes Monica : Are They Really in Love?

4 Comments

Twitter memang powerful. Begitu Denny Sumargo(@sumargodenny) dan Agnes Monica (@agnezmo) berbalas tweet, followers mereka mulai heboh. Seingat saya sih, awalnya Densu -panggilan akrab Denny Sumargo – hanya sekadar mengomentari foto Agnes yang menurut dia cuek dan kelihatan humble. Eh… tiba-tiba saja mereka jadi berbalas pantun tweet, yang mulanya biasa saja lama-lama jadi bernada mesra.

Flirting di twitter mungkin biasa saja kalau pelakunya hanya common people. Tapi ketika dua selebriti muda, sama-sama single, sama-sama berprestasi, dan sama-sama punya seabrek fans ini saling mention di twitter, tak perlu waktu lama bagi para pekerja infotainment untuk mengendus kedekatan mereka (OK, kalimat ini jadi sedikit 4L4Y ya ;P ). Teman saya bercerita di group BBM, pagi-pagi di infotainment sudah muncul berita tentang Densu yang PDKT dengan Agnes Monica. Beritanya masuk di koran Jawa Pos bagian Sportivo.

Muncullah aneka spekulasi, apa benar ya mereka pacaran?

Kata Densu : “Kita sudah kenal lama, delapan tahunan.”

Kata Agnes : “Saya harus tahu dulu motivasi dia mendekati saya.” More

Tips dan Trik Mendongeng untuk Anak

1 Comment

courtesy of getty images

Mendongeng untuk anak adalah aktivitas yang murah, mudah, dan menyenangkan. Mendongeng dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak, di samping dapat mengenalkan nilai moral atau value tertentu. Belakangan ini saya menjumpai peralatan mendongeng yang dijual di toko buku, berupa semacam pena yang ujungnya berfungsi sebagai alat pemindai. Bila pena itu digerakkan di atas buku dongeng, perangkat speaker akan membacakan tulisan pada buku tersebut. Meski menurut saya alat ini cukup inovatif, bagi saya, tidak ada yang mampu menggantikan peranan orang tua sebagai pendongeng untuk anaknya.

Mendongeng bukan sekadar membacakan tulisan pada buku dongeng. Dalam aktivitas mendongeng, seyogianya ada interaksi dua arah antara pendongeng dan anak. Bagaimana agar interaksi ini tercipta? Ajaklah anak berkomunikasi selama cerita dibacakan. Misalnya, tunjuk gambar tertentu dan minta anak menyebutkan warnanya. Bila ada objek yang jumlahnya lebih dari satu, ajak anak menghitung jumlahnya. Setiap selesai menceritakan satu halaman cerita, minta anak mengulangi cerita tersebut, tentunya sambil dipandu oleh pendongeng. More

[Kista Ateroma] : The Surgery

6 Comments

Posting tentang cerita bedah ini akan sangat jujur dan detail. Masih ada waktu untuk tidak meneruskan membacanya.

Yakin masih mau lanjut??

Yakin nggak bakal parno?

OK, OK, I give up. Selamat membaca deh :D More

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: